AKU PADA AKU YANG LAIN
Aku pada aku yang lain
Kami berbincang ringan
Seringan bulu angsa yang terbang
Aku pada aku yang lain
Bercerita tentang pagi dan malam
Atmosfir beda yang kita rasa
Aku pada aku yang lain
Dan aku cerita tentang bunga
Tentang warna warni dunia
Tapi dia hanya diam
Senyum nya dingin dengan tatap hampa
Tapi aku terus bercerita
Dan dia dengar tanpa suara
Aku geram dan ku tatap dia sinis
Yah benar begitu, tepat sekali
Tetap diam tanpa suara
Kau tidak lihat mata-mata itu?
Mereka sedang menatap mu
Dan kau mau tunjukan wajah mu itu?
Hah... Sial
Benar tetap saja diam disana
Kau tidak akan pernah berubah
Selalu sayu dan tidak bergairah
Lihat aku! Aku telah berdandan tawa
Aksesoris ku indah di mata mereka
Lihat! inilah yang mereka mau
Aku lah indah, aku lah nyata
Bibirnya gemetar, menunduk ragu
Mencoba bersuara begitu lirih
Tidak apa aku hanya mendengar
Biar indra mata ku saja yang melihat
Kau tahu?
Telingaku telah tuli
Suara riang mu memekakkan ku
Tidak apa, biar aku terus sembunyi
Biar aku yang diam terus disini
Tapi jangan lupa aku adalah kau
Akulah air mata yang kau teteskan kedalam
Mengalir deras di saraf otak mu
Dan sungguh inilah aku
Aku diam dan biar hanya aku yang tau
Benar, kau harus indah pada dunia
Aku hanya butuh dunia ku, dan kau
Hahahahaha
Bukan kah ini lucu?
Saat ini aku coba tertawa
Dan cukup untuk berterima kasih
Aku tahu kau tahu
Tapi... kau yang sembunyikan aku
Kau yang tekan aku disini
Kau yang membuatku diam dengan ceritamu
Tidakah kau bisa berikan aku kesempatan?
Mengeluarkan aku dari penjara ini
Aku tak pernah bisa bercerita
Kau yang terus saja berbicara
Kami saling bertatap perih
Aku lihat dia dari mata ku
Dan kutemukan aku di bola matanya
Hanya tatap kami yang berbincang
Seketika pipiku hangat
Ada cairan aneh yang mengalir
Tapi sangat sejuk didalam
Ku peluk dia erat, begitu erat
Hingga kami sesak dan terisak
Ucap ku....
Biarlah, tak apa, jangan bersedih
Aku tak mengapa begini
Aku harus seperti ini
Mata-mata itu yang mengurung kita
Menjadi sutradara mengatur semuanya
Biar kau tenang di dalam sana
Biar aku saja yang berjuang, bersandiwara
Kita akan terus berbincang di akhir pekan
Aku akan mendengar suara mu nanti
Mereka tidak akan tahu cerita kita
(Vetri, 2019)
Sebuah terjemahan dari ilustrasi rasa
Draw by @Succulentfleur
Kami berbincang ringan
Seringan bulu angsa yang terbang
Aku pada aku yang lain
Bercerita tentang pagi dan malam
Atmosfir beda yang kita rasa
Aku pada aku yang lain
Dan aku cerita tentang bunga
Tentang warna warni dunia
Tapi dia hanya diam
Senyum nya dingin dengan tatap hampa
Tapi aku terus bercerita
Dan dia dengar tanpa suara
Aku geram dan ku tatap dia sinis
Yah benar begitu, tepat sekali
Tetap diam tanpa suara
Kau tidak lihat mata-mata itu?
Mereka sedang menatap mu
Dan kau mau tunjukan wajah mu itu?
Hah... Sial
Benar tetap saja diam disana
Kau tidak akan pernah berubah
Selalu sayu dan tidak bergairah
Lihat aku! Aku telah berdandan tawa
Aksesoris ku indah di mata mereka
Lihat! inilah yang mereka mau
Aku lah indah, aku lah nyata
![]() |
Bibirnya gemetar, menunduk ragu
Mencoba bersuara begitu lirih
Tidak apa aku hanya mendengar
Biar indra mata ku saja yang melihat
Kau tahu?
Telingaku telah tuli
Suara riang mu memekakkan ku
Tidak apa, biar aku terus sembunyi
Biar aku yang diam terus disini
Tapi jangan lupa aku adalah kau
Akulah air mata yang kau teteskan kedalam
Mengalir deras di saraf otak mu
Dan sungguh inilah aku
Aku diam dan biar hanya aku yang tau
Benar, kau harus indah pada dunia
Aku hanya butuh dunia ku, dan kau
Hahahahaha
Bukan kah ini lucu?
Saat ini aku coba tertawa
Dan cukup untuk berterima kasih
Aku tahu kau tahu
Tapi... kau yang sembunyikan aku
Kau yang tekan aku disini
Kau yang membuatku diam dengan ceritamu
Tidakah kau bisa berikan aku kesempatan?
Mengeluarkan aku dari penjara ini
Aku tak pernah bisa bercerita
Kau yang terus saja berbicara
Kami saling bertatap perih
Aku lihat dia dari mata ku
Dan kutemukan aku di bola matanya
Hanya tatap kami yang berbincang
Seketika pipiku hangat
Ada cairan aneh yang mengalir
Tapi sangat sejuk didalam
Ku peluk dia erat, begitu erat
Hingga kami sesak dan terisak
Ucap ku....
Biarlah, tak apa, jangan bersedih
Aku tak mengapa begini
Aku harus seperti ini
Mata-mata itu yang mengurung kita
Menjadi sutradara mengatur semuanya
Biar kau tenang di dalam sana
Biar aku saja yang berjuang, bersandiwara
Kita akan terus berbincang di akhir pekan
Aku akan mendengar suara mu nanti
Mereka tidak akan tahu cerita kita
(Vetri, 2019)
Sebuah terjemahan dari ilustrasi rasa
Draw by @Succulentfleur

Komentar
Posting Komentar